Dia mengingatkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengenai masih banyaknya stok vaksin yang menumpuk. Kemenkes diminta harus lebih memperhitungkan potensi terjadinya kekacauan jika vaksin tidak disalurkan secara merata.
“Karena saat ini animo masyarakat untuk vaksin tinggi. Jika daerah mengalami kendala keterbatasan stok vaksin, yang terjadi seperti yang sudah-sudah, ada kerumunan warga di sentra-sentra vaksin yang bisa menjadi kluster Corona baru,” ucapnya.
Menurutnya, perbedaan pasokan vaksin di setiap daerah bisa menyebabkan pemulihan ekonomi yang tidak serentak. Padahal, lanjut dia keberhasilan pemulihan ekonomi di daerah akan menunjang pemulihan ekonomi nasional (PEN).
“Seperti kata Presiden Jokowi vaksinasi adalah game changer, yang menjadi kunci agar masyarakat bisa kembali produktif. Tapi kalau pasokan vaksin tidak merata, produktivitas masyarakat juga akan ikut tidak merata,” katanya.
Dia akan menugaskan Komite III DPD yang membidangi urusan kesehatan untuk mengawal proses distribusi vaksinasi. DPD disebut akan menggencarkan komunikasi dengan pemerintah agar vaksinasi bisa merata ke seluruh daerah.
“Termasuk dengan meminta para senator melakukan pemantauan di dapilnya masing-masing dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah mengenai stok dan proses vaksinasi,” ucapnya.
Masyarakat juga diimbau mengikut vaksin Covid sehingga target 70 persen rakyat Indonesia tervaksinasi pada akhir tahun ini dapat terealisasi. Apalagi, kata dia beberapa jenis vaksin yang baru datang memiliki efikasi lebih tinggi dan kebal terhadap varian delta seperti moderna dan pfizer.
“Vaksin Pfizer dan Moderna ini kan berbasis mRNA, punya efikasi sekitar 95 persen pada kelompok usia dewasa. Jadi masyarakat tidak perlu takut lagi untuk vaksin, segera datangi sentra-sentra vaksinasi terdekat,” ucapnya.
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil studi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), diketahui jika 99,5 persen orang yang meninggal karena Covid-19 selama enam bulan terakhir, belum mendapatkan vaksin. Data tersebut menunjukkan bahwa setiap kematian terkait Covid-19 saat ini dapat dicegah dengan vaksinasi.
“Ini artinya orang yang belum divaksin lebih berisiko dibandingkan yang sudah divaksinasi. Bukan berarti yang telah divaksin tidak akan mungkin terpapar Covid, tapi sekalipun memang terinfeksi, tingkat risiko bahayanya lebih rendah,” katanya.