Opini serupa dilontarkan pengamat politik yang juga Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo. Dia memandang, puisi Fadli Zon menjadi blunder besar. Suasana menjadi semakin keruh karena wakil ketua DPR itu tidak menakar efek negatif bawaan dari puisinya itu.
“Puisi Fadli Zon ini sebenarnya menampar dirinya sendiri. Potensi efek bawaannya tidak dilihat,” kata Karyono. Dia juga sependapat bahwa puisi ciptaan Fadli Zon tidak memenuhi aspek estetika, bahkan sangat jauh dari nilai-nilai seni. Sebaliknya, lebih dominan dengan kata-kata politis yang menohok. “Menurut saya ini salah satu kepanikan Fadli Zon dalam menghadapi realitas politik saat ini,” kata dia.
Putra cawapres 01 Ma’ruf Amin, Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin juga ikut menyayangkan puisi Fadli Zon. Gus Oqi-panggilan akrab Kiai Ma’ruf-menilai tidak ada yang salah dari doa Mbah Moen. “Coba dengarkan dan cermati sekali lagi doa Mbah Moen. Itu jelas-jelas Mbah Moen mengatakan bahwa orang di samping saya jadikan presiden, presidennya Pak Prabowo,” ujarnya.
Putra kelima Kiai Ma’ruf ini menegaskan, tidak ada pengulangan doa. Akan tetapi, penegasan. Namun, doa yang dipanjatkan Mbah Moen tetap sama. ”Karena tidak ada yang salah dari doa Mbah Moen. Diulang seribu kali pun tetep begitu,” kata dia.