JAKARTA, iNews.id – Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum dibarengi standar baterai yang jelas dan kuat. Founder National Battery Research Institute (NBRI), Profesor Evvy Kartini mengungkapkan fakta mengejutkan saat ini terdapat sedikitnya 58 merek motor listrik di Tanah Air menggunakan baterai berbeda-beda tanpa standar nasional.
Menurut Profesor Evvy, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena hampir seluruh baterai motor listrik masih diimpor. Lebih mengkhawatirkan lagi, kandungan material di dalam baterai tersebut belum sepenuhnya diketahui apakah aman bagi pengguna maupun lingkungan.
“Bicara kendaraan listrik itu tidak bisa dilepaskan dari baterai. Intinya EV adalah baterai. Tapi sekarang ada 58 brand motor listrik, semuanya pakai baterai sendiri-sendiri, tidak ada standar,” ujar Profesor Evvy dalam seminar di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Sebagai pakar baterai, Profesor Evvy Kartini yang juga peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia seharusnya fokus pada pengembangan riset dan produksi baterai secara mandiri. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjamin keamanan, efisiensi, serta keberlanjutan industri kendaraan listrik nasional.
Dia menyoroti ketergantungan pada baterai impor yang tidak disertai pemahaman menyeluruh mengenai kandungan kimia di dalamnya. Menurutnya, tanpa standar dan pengawasan ketat, potensi bahaya seperti risiko kebakaran, pencemaran lingkungan, hingga limbah beracun bisa menjadi bom waktu.
Profesor Evvy membandingkan kondisi Indonesia dengan Malaysia. Dia menyebut Malaysia justru telah berhasil mengembangkan baterai kendaraan listrik buatan sendiri 100 persen. Ironisnya, sebelum mencapai tahap tersebut, Malaysia sempat belajar dari Indonesia.