Kereta Api Pertama di Indonesia, Dibangun pada Zaman Tanam Paksa 155 Tahun Lalu

Novie Fauziah
Moda transportasi kereta api (KA) di Indonesia sudah ada sejak masa penjajahan Belanda pafa 155 tahun silam. (Foto: Instagram/KAI)

JAKARTA, iNews.id - Moda transportasi kereta api (KA) di Indonesia sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Kala itu, KA digunakan lebih banyak untuk mengangkut barang-barang komoditas perkebunan dan tambang. Sementara KA ditumpangi oleh orang hanya diperuntukkan bagi bangsawan.

Ini diberlakukan setelah Tanam Paksa diberlakukan oleh Van den Bosch pada 1825-1830. Ide tentang perkeretaapian Indonesia diajukan dengan tujuan untuk mengangkut hasil bumi dari Sistem Tanam Paksa.

Salah satu alasan yang mendukung adalah tidak optimalnya penggunaan jalan raya pada masa itu. Akhirnya, pada 1840, Kolonel J.H.R. Carel Van der Wijck mengajukan proposal pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda

Kemudian di mana kereta api tertua di Indonesia, apakah keberadaannya masih ada?

Kereta api pertama di Indonesia dibangun pada 1867 di Semarang, Jawa Tengah dengan rute Samarang - Tanggung yang berjarak 26 kilometer oleh NISM, N.V. (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) dengan lebar jalur 1.435 mm (lebar jalur SS - Staatsspoorwegen adalah 1.067 mm atau yang sekarang dipakai), atas permintaan Raja Willem I untuk keperluan militer di Semarang maupun hasil bumi ke Gudang Semarang. 

Selanjutnya, dalam melayani kebutuhan akan pengiriman hasil bumi dari Indonesia, pemerintah Kolonial Belanda sejak 1876 telah membangun berbagai jaringan kereta api, dengan muara pada pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dan Tanjung Perak Surabaya. Semarang meskipun strategis, tetapi tidak ada pelabuhan untuk barang, sehingga barang dikirim ke Batavia (Jakarta) atau Soerabaja. (Surabaya).

Kehadiran kereta api di Indonesia diawali dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Kala itu dipimpin oleh Ir J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1.435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada 10 Agustus 1867.

Di Indonesia pernah ada lokomotif uap dari berbagai jenis, antara lain; Tipe B, Tipe BB, Tipe C, Tipe CC, Tipe D, Tipe DD dan Tipe F. 

Sebagian lokomotif uap yang pernah ada di Indonesia tersebut di atas (seri B, C, BB, CC, DD, D dan F) telah dipajang di 

Museum Kereta Api Ambarawa dan Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Sebagian di antaranya sudah tidak diketahui lagi keberadaannya yang tersisa fotonya saja.

Editor : Dani M Dahwilani
Artikel Terkait
Nasional
3 hari lalu

Kecelakaan Maut Minibus Tertabrak KA Motis Selatan di Cilacap, Sopir Tewas

Nasional
9 hari lalu

Mudik setelah Lebaran, 44.000 Penumpang Kereta Api Berangkat dari Jakarta

Nasional
9 hari lalu

Arus Balik Lebaran, 51.015 Penumpang Kereta Api Tiba di Jakarta Hari Ini

Internasional
10 hari lalu

Tragis! Bus Pemudik Ditabrak Kereta Api hingga Terseret 1 Km, 12 Orang Tewas

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal