Namun dalam praktiknya, algoritma AI harus menafsirkan percakapan, intonasi suara, hingga kebisingan latar belakang saat pemberhentian lalu lintas. Padahal, interaksi singkat di pinggir jalan bisa berdampak panjang bagi pengemudi.
Laporan polisi bukan sekadar arsip. Catatan tersebut dapat memengaruhi proses hukum, klaim asuransi, penangguhan SIM, hingga pemeriksaan latar belakang pekerjaan di masa depan. Artinya, kesalahan AI bukan hanya salah ketik, melainkan informasi keliru yang tercatat dalam dokumen resmi.
Dalam kasus ini, kesalahannya cukup ekstrem hingga mudah dikenali. Namun, bagaimana jika AI keliru menafsirkan nada bicara, salah mencatat siapa yang berbicara, atau merangkum situasi dengan bahasa yang lebih keras dari kenyataan? Kesalahan seperti itu bisa jauh lebih sulit terdeteksi dan berpotensi merugikan.
Sebab itu, para ahli menilai pengawasan manusia tetap mutlak diperlukan. Tidak semua petugas mungkin akan menyunting ulang laporan AI jika isinya terasa “cukup mirip”, meski maknanya bisa berbeda.
Untuk sementara, langkah aman bagi pengendara adalah menggunakan dashcam atau alat perekam lain sebagai pembanding. Selain itu, meminta salinan rekaman dan laporan kamera tubuh melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi juga dinilai penting.
Belajar dari kasus ini, katak dalam laporan polisi mungkin mengundang tawa. Namun, ketika menyangkut catatan permanen dengan aparat penegak hukum, kesalahan sekecil apa pun bukanlah hal sepele.