Salah satu komponen utama DM-i adalah mesin hybrid 1.5 liter naturally aspirated. Mesin tersebut memiliki efisiensi termal hingga 46,06 persen, yang disebut sebagai salah satu tingkat efisiensi tertinggi pada mesin produksi massal. Efisiensi ini didukung sejumlah teknologi, antara lain rasio kompresi 16:1, Exhaust Gas Recirculation (EGR), Intelligent Split Cooling Technology, serta algoritma knock control.
Mesin tersebut juga dapat menggunakan bensin dengan Research Octane Number (RON) minimum 92. Hal ini membuat teknologi DM-i tidak hanya mengandalkan kemampuan motor listrik, tetapi juga mengoptimalkan efisiensi mesin pembakaran sebagai bagian dari sistem hybrid.
Sementara itu, Electric Hybrid System (EHS) mengintegrasikan motor listrik, kontrol elektronik, single-gear reducer, direct-drive clutch, dan sistem pendingin oli dalam satu unit yang lebih ringkas.
"Integrasi tersebut mampu mengurangi bobot dan volume sistem hingga sekitar 30 persen. Kondisi ini turut mendukung efisiensi penyaluran tenaga sekaligus memberikan respons akselerasi yang lebih baik," ujar Bobby.
Dia menjelaskan dari sisi efisiensi, kendaraan dengan teknologi Dual Mode (DM/Hybrid EV) menawarkan biaya operasional lebih rendah dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Biaya penggunaan energi berada di kisaran Rp360-Rp416 per kilometer, sementara kendaraan konvensional mencapai sekitar Rp967 per kilometer.
Bobby menyebutkan untuk jarak tempuh 150 kilometer, penghematan biaya dapat mencapai sekitar 63 persen, yakni dari Rp145.000 pada kendaraan konvensional menjadi sekitar Rp53.278 menggunakan teknologi DM. Efisiensi bahan bakarnya mencapai 65 kilometer per liter, atau sekitar empat kali lebih hemat dibandingkan mesin konvensional.
Kehadiran BYD M6 DM di Indonesia menjadi salah satu solusi menjawab kebutuhan kendaraan ramah lingkungan dan efisien di tengah harga bahan bakar yang fluktuatif. Perkembangan teknologi Dual Mode memungkinkan masyarakat menyesuaikan kendaraan energi baru berdasarkan kebutuhan.