JAKARTA, iNews.id – Uni Eropa (UE) tengah mengkaji langkah baru dalam mengatur masuknya kendaraan listrik asal China. Opsi yang dibahas adalah mengganti tarif impor dengan kebijakan pengendalian harga atau penetapan harga minimum.
Kebijakan ini dinilai bisa meredakan ketegangan dagang, sekaligus tetap membatasi laju impor mobil listrik dari China. Selain itu, langkah tersebut diharapkan mampu melindungi produsen mobil buatan Eropa dari persaingan harga yang terlalu agresif.
Dilansir dari Carscoops, Kamis (13/1/2026), setelah berbulan-bulan diwarnai ketegangan perdagangan dan dinamika politik, Uni Eropa mulai mengevaluasi ulang kebijakan tarif kendaraan listriknya. Padahal, kebijakan tarif tinggi itu baru diterapkan sekitar 18 bulan lalu untuk melindungi industri otomotif domestik dari serbuan mobil listrik murah asal Tiongkok.
Sebelumnya, Uni Eropa memberlakukan tarif hingga 45 persen terhadap kendaraan listrik China. Besaran tarif tersebut berbeda-beda, tergantung pada penilaian terhadap besarnya subsidi yang diterima masing-masing merek dari pemerintah China. Kini, kebijakan itu berpotensi diganti dengan penetapan harga minimum untuk impor kendaraan listrik dari Asia.
Dalam skema ini, produsen mobil China diminta mengajukan proposal harga yang dianggap memadai untuk menekan dampak subsidi. Dokumen Komisi Eropa yang dikutip South China Morning Post menyebutkan, harga tersebut harus memberikan efek yang setara dengan penerapan bea masuk. Selain harga, Uni Eropa juga akan mempertimbangkan faktor lain, seperti rencana investasi jangka panjang di kawasan Eropa.
Penetapan harga minimum diyakini dapat memberi ruang bagi produsen mobil Barat yang memproduksi kendaraan di Eropa untuk bersaing lebih sehat dengan merek China, seperti BYD dan Chery. Di sisi lain, karena tidak ada kewajiban membayar tarif, produsen China tetap bisa mempertahankan margin keuntungan, sehingga ketegangan dagang diharapkan mereda.