Menurut Ricky, teknologi mampu menciptakan konsistensi, tetapi manusialah yang menjaga kualitas kendaraan yang diproduksi.
Mazda juga menerapkan konsep zero defect mindset, di mana kualitas tidak hanya diperiksa pada tahap akhir, tetapi dibangun sejak awal hingga seluruh proses produksi selesai.
Untuk menjaga kualitas produk, Mazda menerapkan sistem pengendalian mutu berlapis yang meliputi Process Audit, Product Audit, Mazda Quality Index for Customer (MQIC) Audit yang dilakukan langsung oleh tim Mazda Jepang, serta Third Party Audit sebagai verifikasi independen terhadap sistem produksi.
Selain itu, seluruh operator bekerja berdasarkan dua standar operasional utama yang dikendalikan langsung oleh Mazda Jepang, yakni Instruction Sheets for Operation (ISFO) sebagai panduan kerja dan Instruction Sheets for Inspection (ISFI) sebagai panduan inspeksi kualitas.
"Kami percaya kualitas tidak bisa dikompromikan. Peningkatan volume produksi akan mengikuti perkembangan pasar, tetapi prioritas kami tetap sama. Nomor satu adalah kualitas, nomor dua adalah kualitas, dan nomor tiga tetap kualitas," kata Ricky.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Setia Diarta mengapresiasi langkah Mazda membangun fasilitas pabrik di Indonesia. "Kami mengucapkan apresiasi atas peresmian fasilitas pabrik mobil di Indonesia," katanya.
Setia Diarta berharap PT Eurokars Produksi Pratama selaku fasilitas produksi Mazda di Indonesia dapat berpartisipasi dalam program LCEV. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat transformasi industri otomotif nasional menuju kendaraan rendah emisi. "Kami berharap Mazda ke depan dapat tumbuh bersama ekosistem industri otomotif yang ada di Indonesia dalam hal ini LCEV," ujarnya.