Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 6,2 hektare itu saat ini merakit Mazda CX-30 sebagai model pertama. Ke depan, fasilitas tersebut disiapkan untuk merakit lebih banyak model seiring meningkatnya permintaan pasar.
Ricky menjelaskan, Mazda Indonesia Plant dibangun dengan empat tujuan utama, yakni mempertegas komitmen investasi jangka panjang di Indonesia, menghadirkan fasilitas perakitan khusus berstandar global, mengembangkan kemampuan manufaktur nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta menjadi fondasi pengembangan model-model Mazda berikutnya.
Selain itu, fasilitas tersebut juga dipersiapkan untuk meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap, memperluas penyerapan tenaga kerja, membuka peluang aktivitas manufaktur yang lebih besar, hingga mendukung ekspor di masa mendatang.
"Mazda menempatkan kualitas sebagai prioritas utama dalam operasional pabrik tersebut. Seluruh operator, inspector, engineer, dan supervisor direkrut khusus untuk Mazda Indonesia Plant serta menjalani pelatihan berstandar global dengan pendampingan langsung dari tenaga ahli Mazda Jepang," kata Ricky Thio.
Para pekerja juga dibekali filosofi Monozukuri, yaitu seni menciptakan produk dengan ketelitian dan dedikasi tinggi, serta semangat Takumi Craftsmanship yang menempatkan keterampilan manusia sebagai inti proses manufaktur.