Kombinasi antara pertumbuhan pasar, kecocokan produk dengan kebutuhan konsumen, dan peningkatan manufaktur lokal membentuk siklus pertumbuhan berkelanjutan. Semakin banyak model tersedia, harga semakin terjangkau, dan minat masyarakat terus meningkat.
Pemerintah menilai Perpres 79/2023 menjadi fondasi penting dalam mendorong transisi energi di sektor transportasi. Tren pertumbuhan yang konsisten, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan dan produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Produksi Dalam Negeri
Berdasarkan perbandingan struktur insentif BEV dan volume penjualan peserta program hingga Desember 2025, kontribusi kendaraan listrik rakitan lokal terus meningkat signifikan. Pada 2025, penjualan BEV didominasi kendaraan impor utuh atau completely built up (CBU) dengan porsi sekitar 74 persen, sementara completely knocked down (CKD) baru menyumbang sekitar 25 persen.
Sejumlah merek yang telah mengikuti program CKD pada 2025 antara lain Hyundai, Wuling, Chery, Neta, MG, dan Polytron. Sementara segmen CBU diisi oleh merek seperti BYD, Geely, VinFast, Volkswagen, XPeng, Citroën, GWM, dan Maxus.
Memasuki 2026, peta pasar berubah drastis. Hampir seluruh merek utama telah beralih ke skema CKD atau berkomitmen mengikuti program perakitan lokal. Alhasil, kendaraan listrik CKD diproyeksikan menguasai hingga 99 persen total pasar BEV nasional.