Ismet menjelaskan, gangguan shipping membuat pengiriman pelumas asal Uni Emirate Arab (UEA) ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia, mengalami penundaan. Meski demikian, stok dalam negeri masih relatif aman untuk beberapa bulan ke depan.
"Biasanya kan tidak, tiap bulan kan kami ada pengiriman. Saat ini ya terhenti sementara. Tapi karena kita memang punya stok, itu masih gini lah, masih ada barang," ujarnya.
Menurut dia, ketahanan stok bervariasi tergantung jenis produk. Beberapa produk memiliki cadangan hingga 3 bulan, sementara lainnya bisa bertahan hingga 8–9 bulan.
Terkait harga, Ismet mengakui potensi kenaikan tetap ada jika konflik berkepanjangan dan berdampak luas secara global. Namun, perusahaan masih memilih menahan harga selama belum terjadi lonjakan signifikan.
"Kami wait and see lah. Intinya kita nggak mau ambil ini sebagai peluang untuk main menaikkan harga gitu loh. Walaupun kami akan naikkan, itu karena memang sudah terjadi lonjakan," katanya.
Di sisi lain, pasar pelumas otomotif di Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh. Pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat menjadi faktor utama, meskipun sebagian mulai diisi oleh kendaraan listrik.