Menurut Budi, jika harga mobil baru turun 10 persen, belum dikatakan mengganggu penjualan mobil bekas karena pedagang sudah lebih dulu menurunkan harga sejak pandemi Covid-19.
"Kami sebelumnya sudah menurunkan harga mobil bekas sejak awal virus corona (Covid-19) melanda Indonesia. Kalau harga mobil baru turunnya tak signifikan, sebenarnya masih menguntungkan kami," kata Budi.
Dia menyebutkan, kebutuhan kendaraan pribadi dirasa penting untuk menghindari penyebaran Covid-19, maka mobil bekas tetap menjadi pilihan. "Orang kan sekarang beli yang murah, yang penting jangan naik kendaraan umum," ujarnya.
Namun, jika harga mobil baru turun lebih dari 20 persen, bisa membuat harga mobil bekas yang sudah miring semakin tertekan. "Dampaknya, harga jual mobil bekas yang sudah turun akan semakin anjlok," katanya.