Wiryanta menyebut, salah satu bentuk kecemasan dan kepanikan yang timbul akibat hoaks mengenai COVID-19 ini soal masyarakat yang berbondong-bondong memburu masker.
Dia menilai, informasi bohong begitu mudah tersebar karena saat ini sekitar 171 juta jiwa penduduk di dunia terkoneksi internet. Sebanyak 90 persen terhubung melalui smartphone.
"Bagi Bali, hoaks soal virus corona bisa berdampak ketakutan orang untuk berkunjung ke Bali. Akibatnya, penerbangan menurun dan hotel-hotel menjadi sepi karena penurunan kunjungan wisatawan," ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali Ida Bagus Agung Ludra mengatakan, perang terhadap hoaks virus korona juga harus dilakukan pelajar Bali.
Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Bali mengalami dampak signifikan dari mewabahnya virus asal Wuhan, China itu.
"Dengan kegiatan ini digelar di Bali ini secara tidak langsung dapat menyatakan bahwa Bali aman untuk dikunjungi. Apalagi ini melibatkan para pelajar," ucapnya.