"Dengan terjadinya pandemi Covid-19, para turis tidak semata-mata hanya melihat objek wisata. Yang lebih penting dan diutamakan masalah kesehatan. Bagaimana soal kebersihan dan penerapan protokol kesehatan di objek wisata tersebut," ucapnya.
Santy Lusiani mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan pariwisata untuk bersama-sama menjaga kesehatan dan kebersihan di lingkungan objek wisata. Hal pertama yang harus disiapkan untuk mendatangkan wisatawan, kawasan wisata harus sangat ketat menerapkan protokol kesehatan.
"Protokol kesehatan itu antara lain menyediakan tempat cuci tangan beserta kelengkapannya, prosedur untuk jaga jarak, dan menghindari kerumunan. Begitu juga pelayan wisata harus steril dengan menggunakan masker dan hand sanitizer," katanya.
Dalam program ini, Kemenparekraf melakukan sosialisasi terkait program tersebut dan dilanjutkan dengan bersih-bersih pantai di kawasan Desa Pemuteran. Masyarakat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) akan dibagi masing-masing menjadi 10 kelompok untuk bersih-bersih pantai.
"Sampahnya akan dikumpulkan, selanjutnya dilakukan penimbangan sampah," ujarnya.
Santy Lusiani mengatakan, dalam program ini sedikitnya ada 10 item sampah yang akan dikumpulkan, antara lain sampah plastik, dan limbah B3 (limbah berbahaya dan beracun).
Selama dua hari kegiatan hingga Sabtu (22/8/2020), Kemenparekraf menyerahkan secara simbolis peralatan protokol kesehatan dan tong sampah. Selain itu juga diisi kegiatan sosialisasi terkait revitalisasi bumi, tata cara menerapkan protokol kesehatan dan bersih-bersih sampah di kawasan tersebut.