GARUT, iNews.id – Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan penjelasan ilmiah terkait kemunculan fenomena langka blue fire (api biru) yang viral di area kawah Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Fenomena tersebut dipastikan terjadi akibat keluarnya gas belerang bersuhu tinggi melalui rekahan kawah.
PVMBG menyebutkan bahwa fenomena blue fire di Gunung Papandayan bukanlah yang pertama kali terjadi. Berdasarkan catatan historis, fenomena serupa pernah teramati pada 22 Februari 2023 dan 12 Juli 2025.
Menurut penjelasan Badan Geologi, blue fire muncul akibat adanya rekahan di kawah gunung api aktif tempat keluarnya gas bersuhu tinggi yang dikenal sebagai fumarol. Ketika gas belerang bersuhu tinggi tersebut keluar dan bereaksi secara langsung dengan oksigen di udara bebas, timbul nyala api berwarna kebiruan.
Dari hasil pengamatan lapangan, tim PVMBG menemukan sisa pembakaran material di sekitar kawah. Suhu ekstrem diduga membakar endapan material belerang yang menempel di dinding kawah.
"Berbeda dengan Kawah Ijen yang memiliki kandungan belerang dan suhu tinggi secara konsisten sehingga blue fire sering muncul, di Gunung Papandayan fenomena ini tergolong langka. Blue fire di Papandayan hanya muncul ketika suhu dan konsentrasi gas belerang memenuhi syarat untuk terbakar," ungkap Kepala PVMBG Badan Geologi KESDM, Rita Susilawati, Rabu (30/9/2026).
Pada tahun 2023 dan 2025, fenomena api biru teramati di Kawah Baru. Sementara pada kemunculan tahun 2026 ini, titik nyala api biru bergeser ke area Kawah Manuk.
Selain mengamati fenomena visual, Badan Geologi mencatat adanya konsentrasi gas vulkanik beracun di sekitar lokasi kejadian yang telah melebihi ambang batas aman bagi kesehatan manusia. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi gas Sulfur Dioksida mencapai 230 ppm dan Hidrogen Sulfida mencapai 120 ppm.