“Teman-temannya sempat mengingatkan juga, kalau sudah malam, enggak ada angkutan lagi ke Cianjur, mending nginap aja lagi. Tapi, dia bilang tetap akan pulang karena Seninnya kerja. Jadi waktu mau pulang itu dianterin oleh temannya yang dua tadi, orang Padang dan satu orang Papua. Dulu bareng kuliahnya, sahabatnya sejak lama,” kata Supandi.
Setelah berpisah dengan temannya, Amel belum juga sampai ke rumahnya di Cianjur. Dia juga tidak bisa dihubungi lagi lewat ponselnya. Supandi dan istrinya tidak bisa tidur sejak malam karena cemas Amel tidak kunjung memberikan kabar. “Kami menunggu dari malam, enggak ada berita. Kami tidak bisa tidur,” katanya.
Karena khawatir, keluarga lalu mencoba melacak lokasi terakhir ponsel Amel dari emailnya. “Omnya buka laptop yang biasa dipakai Amel, dibuka, di Gmailnya, dilihat, pas dibuka lokasi terakhirnya di Sukabumi, di dekat rumah makan Padang. Setahu saya tidak ada yang dia kenal di sana, enggak ada temannya di sana,” katanya.
Senin (22/7/2019) pagi, keluarga lalu mendapat informasi ada penemuan mayat di Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum, Sukabumi, tepatnya di pinggir sawah. Keluarga curiga karena tempatnya berada di lokasi terakhir Amel saat dilacak.
Untuk memastikan, keluarga ke Sukabumi. Keluarga pun syok karena ternyata benar itu jasad Amel. “Saya enggak nyangka. Kan dia sudah biasa pulang seperti itu malam, tiga tahun di Bogor seperti itu. Paling kalau kemalaman, dia minta dijemput,” katanya.
Supandi mengatakan, di mata keluarga, Amel merupakan anak yang baik, saleh, taat, dan terbuka terhadap orang tuanya. Setiap bepergian, dia juga selalu memberi kabar sehingga keluarga tidak cemas.
“Dia itu tidak pernah menyakiti orang tua, tidak pernah melawan sama orang tua. Mudah-mudahan segala amal ibadah anak kami diterima oleh Allah,” katanya.