Konsep tersebut diperolehnya dari Profesor Bayu yang memperkenalkan metode pemeliharaan ayam dengan perawatan kandang yang lebih praktis.
Salah satu kendala yang dihadapi Agus, yakni perubahan cuaca di Bandung yang tidak menentu. Selain itu, mahalnya harga pakan pabrikan membuatnya mencari alternatif pakan dengan memanfaatkan limbah dapur.
Sisa nasi, sayuran, hingga makanan yang tidak habis dari penghuni kos diolah menjadi pakan ayam. Dengan cara tersebut, biaya pakan dapat ditekan sekaligus mengurangi limbah makanan.
Dari 22 ekor ayam yang dipelihara dalam satu kamar, Agus dapat memanen 18 butir telur setiap hari. Namun, ketika cuaca dingin, produksi telur dapat turun menjadi sekitar 10 butir per hari.
"Kendalah sejauh ini karena perubahan cuaca bandung, kalau lagi panas, ya panas tapi kalu lagi dingin ya dingin, Nah itu berpengaruh dengan kualitas ayam," ucapna.