Sarwa menjelaskan pihaknya telah memasang puluhan alat peringatan dini (early warning system) untuk mengurangi risiko bencana dan jumlah korban.
"Kita sudah pasang 60 alat early warning system, untuk antisipasi tanah bergerak atau longsor," katanya.
Selain bencana banjir dan tanah longsor, Provinsi Jateng juga memiliki ancaman bencana tsunami yakni, di pesisir selatan yaitu Kabupaten Cilacap, Purworejo, Kebumen, dan Wonogiri.
"Sudah kita pastikan alat EWS (early warning system) dalam kondisi baik, kita punya sembilan digital video broadcast, tiga warning receiver system, dua sirine tsunami, enam pendeteksi gempa, dan tujuh sensor akselerograf," ujarnya.
Sementara itu, terkait dengan jumlah bencana alam di Jateng mengalami penurunan, dengan rincian pada 2017, terdapat 2.463 bencana, kemudian di 2018 menurun menjadi 1.734 bencana.
"2017 jumlah kerugian akibat bencana mencapai Rp87 miliar, sedangkan 2018 turun menjadi Rp47 miliar. Ini karena masyarakat makin paham mitigasi bencana," katanya.