Pendapat Ken Dedes ini tentu saja mengagetkan Tunggul Ametung. Dia lalu berkata kepada istrinya bahwa memang kaum satria itu ditakuti seluruh kaum brahmana, termasuk mertuanya sendiri Mpu Purwa dan Pendeta Lohgawe. Namun pernyataannya segera dibantah Ken Dedes.
Ken Dedes merespon tegas pernyataan suaminya bahwa tidak ada satu pun brahmana yang takut kepada kedunguan. Kaum satria merupakan simbol kedunguan karena rata-rata mereka tidak bisa membaca dan menulis, kaum satria merupakan kaum yang tuna pengetahuan.
Oleh karenanya apa yang dilakukan para brahmana setiap harinya adalah belajar menekuni ilmu pengetahuan agar tidak dungu seperti kaum satria. Yang dibutuhkan kaum brahmana adalah ilmu pengetahuan supaya dirinya terlepas dari kedunguan.
Menurutnya, kaum brahmana sama sekali tidak takut kepada kaum satria seperti Tumapel. Sebab kaum satria ini sama sekali tidak dibutuhkan oleh kaum brahmana. Sebaliknya, kaum satria yang justru akan membutuhkan kaum brahmana.
Mendengar jawaban Ken Dedes, Tunggul Ametung langsung menyatakan istrinya itu cermin seorang perempuan yang congkak dan angkuh. Namun lagi-lagi Ken Dedes menghabisinya bahwa tidak ada kaum brahmana yang angkuh.
Kepada suaminya itu, Ken Dedes mengatakan orang yang menyebut seorang brahmana angkuh itu orang dungu yang tidak tahu menahu ilmu pengetahuan sehingga memandang ilmu sebagai simbol keangkuhan.