Denyut Nadi Kampung Jamu Wonolopo Semarang di Tengah Pandemi Covid

Taufik Budi
Pedagang jamu melayani pembeli di Semarang. (iNews/Taufik Budi)

“Selama pandemi proses produksi lancar, karena kebutuhan lumayan meningkat terutama pada awal-awal pandemi,” kata Supriyanto.

Bapak tiga anak itu menyampaikan, penghasilannya melonjak drastis pada awal pandemi. Semua minuman jahe yang mengandung temulawak, jahe, dan kunyit banyak dicari pembeli. Stok minuman jahe yang dibawa beredar ditambah untuk memenuhi pesanan.

“Kalau dulu peningkatan yaitu sekitar awal Maret itu, saya saja meningkat hampir 50 persen. Belum lagi penjua jamu yang lain. Dulu itu biasanya hanya dapat Rp400 ribu, tapi ketika pandemi melonjak menjadi Rp700 ribu,” katanya.

“Untuk jamu yang dibawa macam-macam, misalnya beras kencur dulunya hanya 1 jeriken harus ditambah menjadi 2,5 jeriken. Permintaan paling banyak jenis temulawak, kunir, dan jahe. Itu sudah siap dalam bentuk minuman, siap konsumsi,” katanya.

Lambat laun badai pandemi juga berdampak bagi perajin jamu. Jumlah pembeli berkurang. Banyaknya buruh yang kehilangan pekerjaan dan sulitnya mencari penghasilan, membuat jamu bukan lagi bahan pokok untuk dipenuhi.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
5 hari lalu

Polisi Tangkap Sejumlah Orang saat Aksi Demo Mahasiswa di Simpang Lima Semarang

8 hari lalu

Terungkap, Pabrik Kosmetik Ilegal di Mojokerto Raup Omzet Rp750 Juta Sehari

9 hari lalu

BPOM Bongkar Pabrik Kosmetik Ilegal di Mojokerto, Barang Bukti Senilai Rp16,1 Miliar

11 hari lalu

Rumah Pati Akpol Rusak Parah Imbas Proyek Tetangga, Kasusnya Mangkrak 4 Tahun

16 hari lalu

Tawuran Maut di Semarang Tewaskan Remaja 16 Tahun, Polisi Sita 6 Klewang dan Busur Panah

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal