Pangdam juga membacakan amanat Danpussenif Kodiklatad Letjen TNI Arif Rahman bahwa perayaan HUT Infanteri tidak lepas dari sejarah Panglima besar Jendral Sudirman yang mengeluarkan perintah kilat No.1/PB/D/1948 dalam menjalankan perintah siasat No. 1/1948 tanggal 12 Juni 1948 untuk melaksanakan pertempuran perang rakyat semesta dalam menghadapi agresi militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948, dengan menggunakan taktik dan strategi prajurit Infanteri yakni melalui pertempuran gerilya.
Nilai-nilai ketokohan, patriotisme, kepemimpinan, kejuangan profesionalisme keprajuritan dan pantang menyerah Panglima Besar Jenderal Sudirman harus tertanam dalam tiap diri prajurit Infanteri, termasuk selalu manunggal dengan rakyat sebab lahirnya Korps Infanteri juga tidak lepas dari kebersamaan dengan rakyat dalam bertempur melawan penjajah.
Sesuai dengan temanya, sebagai seorang prajurit Infanteri harus memiliki kemampuan dan kemauan bertempur tinggi sebagai atlet tempur yang tanggap, tanggon dan trengginas.
Memancarkan semangat pengabdian, ikhlas, berkorban, pantang menyerah, serta mendahulukan kepentingan bangsa dan negara, daripada kepentingan pribadi tentunya dengan jiwa korsa yang kuat sebagai landasannya.
Danpussenif berpesan agar seluruh prajurit Infanteri selalu menjaga kekompakan, meningkatkan semangat juang, lebih cinta kepada korps Infanteri, tidak berbuat pelanggaran dan berlomba untuk selalu menciptakan prestasi yang berguna bagi Tentara Nasional Indonesia, masyarakat, bangsa dan negara.
“Selamat hari Infanteri TNI AD ke-73, salam Yudha Wastu Pramuka. Infanteri jaya, tetap semangat,” ujarnya.
Upacara tersebut menampilkan pasukan tradisional 1945, sebagai kilas balik perjuangan rakyat Indonesia yang tergabung dalam ketentaraan di masa lampau dan penyerahan simbol Yudha Wastu Pramuka oleh peleton Yudha Wastu Pramuka yang merupakan manifestasi dari bentuk jiwa korsa sekaligus kebanggaan bagi prajurit Infanteri sebagai garda terdepan dalam setiap pertempuran.