Pangeran Diponegoro dan keluarga serta para pendukung setianya kini mengungsi di Gua Selarong sekaligus untuk menyusun strategi penyerangan terhadap Belanda.
Singadipa setelah mendengar berita bahwa Pangeran Diponegoro sudah mengungsi dan rumah di Tegalrejo dibakar oleh Belanda, seketika timbul amarahnya. Lalu dengan berdiri Singadipa bersuara lantang kepada para prajurit :”Bocah prajurit Ajibarang ! kalian telah mendengar sendiri perintah dari Pangeran Diponegoro. Sekarang juga siagakan pasukan untuk berangkat ke tapal batas sebelah Timur.
Belanda jangan sampai masuk ke wilayah Banyumas apalagi merusak. Tumenggung Jayasinga atau Ki Ngabehi Singadipa memerintahkan putranya Ki Dipamenggala untuk tetap tinggal di tumenggungan menjaga keluarga, mengatur ketentraman para kawula, mengatur pertanian dan kirimkan ke Roma apabila musim panen tiba.
Ngabehi Singadipa, Pangeran Prawirokusumo dan Kyai Imam Misbah berunding mengatur perjalanan prajurit dan strategi pertempuran. Dalam strategi itu diputuskan bahwa prajurit Banyumas dibagi tiga yakni prajurit Roma dipimpin oleh Tumenggung Mertawijaya supaya menjaga batas Roma.
Kemudian Ngabehi Ranawijaya di Kertanegara menjaga wates Kertanegara. Dan ketiga adalah prajurit Ajibarang menjaga di luar batas Banyumas dan menyerang pos-pos Belanda, Bivak atau Benteng serta upaya langsung menuju Purwonegoro, membuat pesanggrahan