Kisah Sanjoto, Pengaman Rute Gerilya Jenderal Sudirman hingga Penguji SIM Militer Ahmad Yani

Ahmad Antoni
Kapten CPM (Purn) Sanjoto saat dikunjungi Danyonif Raider 400/BR Letkol Inf Mohammad Zainollah bersama jajarannya di rumah Jalan Blimbing Raya 34 Peterongan Semarang. (IST)

“Saat itu jadi tentara yang begitu saja, modal berani dan bisa menduduki markas tentara Jepang dan bisa bawa senjata, langsung jadi tentara pejuang. Sama sekali saya tidak pernah mendapatkan pendidikan kala itu, kemampuan gerilya dan bertempur didapat sambal jalan alias pengalaman di perjalanan. Saat itu pengalaman justru di dapat dari para mantan PETA, Heiho, dan Polisi Istimewa yang punya bekal Pendidikan dari Jepang. Dari mereka kita dapat mengerti cara menggunakan senjata dan menembak,” ungkapnya.

Selama berjuang gerilya, Sanjoto yang menyandang Bintang Sewindu dan Bintang Gerilya langsung diberikan dan ditandatangani Presiden Soekarno mendapat tugas sebagai pengaman rute gerilya Pak Dirman. “Jadi saya yang mencarikan jalan atau rute gerilya Pak Dirman ketika berada di wilayah Wonogiri hingga perbatasan Jawa Timur. Rute yang kami pilih adalah yang aman dari pengamatan dan patroli tentara Belanda,” ujarnya.

Dalam mencari rute aman ini menurut Sanjoto juga acap kontak senjata dengan tentara Belanda. Di daerah Jumapala, Sanjoto pernah memasang lansman atau ranjau darat yang menghancurkan truk pembawa pasukan Belanda. 

“Saat itu sekitar pukul 18.00 WIB, ya saat Magrib. Ranjau berhasil dilindas rombongan truk dan meledak. Ada belasan tentara Belanda dalam truk itu yang berantakan dan gugur, sementara lainnya balik arah melarikan diri. Kami bergegas melucuti senjata mereka dan kami dapatkan belasan pucuk senapan, pistol dan amunisi. Rasanya senang, tapi heran karena yang gugur kebanyakan pasukan Belanda kulit hitam, sebagian Gurkha dari India atau Tamil,” kenangnya.

Sanjoto mengakui pada waktu itu gerilya keluar masuk hutan dilandasi rasa suka cita. Semangatnya adalah mengusir penjajah. Kontak senjata kadang tidak berpikir bisa mengakibatkan kematian. Namun kadang juga ada yang mereka khawatirkan, yakni kehabisan amunisi. “Maka bertempurnya disiasati dengan cara menghadang, menembaki lalu lari masuk hutan lagi. Baru kalau ada kampung sekitar  yang dibakar Belanda berarti ada tentara Belanda yang terbunuh oleh kami,” papar Sanjoto.

Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
1 hari lalu

Situasi Maybrat Kondusif usai Kontak Senjata Tewaskan 3 Komandan OPM

9 hari lalu

27 Pamen Kodam IV Diponegoro Naik Pangkat, 7 Perwira Jadi Kolonel

15 hari lalu

Bocah di Sorong Masuk Mes TNI Dini Hari, Diduga Curi iPhone hingga PlayStation

16 hari lalu

Mencekam! Kontak Senjata di Intan Jaya, 4 Anggota OPM Tewas Diterjang Peluru TNI

20 hari lalu

Kontak Tembak Pecah di Nduga, TNI Pukul Mundur OPM

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal