“Budaya tidak cukup hanya disimpan sebagai sejarah. Budaya harus dihidupkan, dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi muda. Ketika 25.000 orang menari bersama, sesungguhnya kita sedang menunjukkan bahwa budaya masih hidup dan memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat,” kata Tri.
Dia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas kebudayaan.
“Dug Dug Der Semarangan bukan hanya sebuah tarian, tetapi dapat menjadi media untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Semarang. Kami berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus membuka ruang bagi inovasi kebudayaan,” ucapnya.