Didik menyebutkan, ada sejumlah investor asing yang telah mengembangkan bisnisnya di SIER dan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER). Seperti dari Australia, Belanda, Prancis, Jepang, Itali, Denmark, Jerman, Belgia, Malaysia, Swiss, Korea Selatan, Amerika Serikat, Taiwan, Singapura, Hongkong, Cina dan India mayoritas menginginkan iklim investasi yang sehat.
Menurut dia, iklim investasi yang sehat harus didefinisikan sebagai kebijakan permudahan regulasi, ketegasan institusional termasuk menjaga kondusifitas keamanan investasi, dan kondisi lingkungan.
Oleh karena itu, mayoritas pelaku bisnis biasanya mengandalkan data untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan sumber daya bahan baku, pemasaran, dan alokasi sumber daya manusia mereka. Wawasan data yang tidak akurat dapat menyebabkan strategi bisnis yang salah, karena tidak menyajikan apa yang terjadi dalam kenyataan, menyebabkan para pemimpin membuat keputusan secara membabi buta.
"Ungkapan-bad data is leading to bad decision making-, adalah bentuk nyata kekhawatiran investor dalam menempatkan investasinya di suatu negara. Di sini peran pemerintah dalam menyajikan data yang valid dan sesungguhnya menjadi penting. Apalagi ini ada implikasi invasi Rusia ke Ukraina telah melahirkan pencarian keseimbangan baru ekonomi, krisis energi dan krisis bahan komoditi sudah terjadi di eropa dan mulai menjalar secara global," katanya.
Kondisi geopolitik ini, lanjutnya, menjadi pukulan khususnya ke industri yang memiliki ketergantungan pada minyak bumi, gas, batubara, alumunium, kobalt, tembaga, nikel, emas, titanium, baja, pupuk, gandum dan jagung.
"Rusia dan Ukraina adalah pemain utama global level produsen dan sektor-sektor tersebut terimbas karena sanksi embargo dan pembatasan rantai pasok logistik. Kondisi ini bisa menjadi momen bagi Indonesia untuk masuk mengembangkan bisnis ke luar negeri," kata Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga ini.