Bahkan, kata dia, ada laboratorium yang hanya bisa bekerja selama 6 jam perhari. Hal itu lantaran keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), keterbatasan logistik dan sebagainya.
"Oleh karena itu, untuk mencapai 30.000 startegi kita yang pertama adalah melipatgandakan jam kerja. Yang dulunya 5-6 jam, kita minta 12 jam perhari. Tentunya dengan harapkan 6 jam perhari saja kita bisa mencapai 19 ribu, maka dengan dua kali lipat misalnya jam kerja ditingkatkan maka tentunya target 20 ribu akan kita lewati. Itu adalah salah satu strategi kita," ujarnya.
Kendati demikian, Kadir mengungkapkan bahwa cara dengan menambah jam kerja ini berimplikasi kepada jumlah SDM yang ada. Menurut dia, jika target Kepala Negara ingin bisa dilampaui, maka penambahan SDM laboratorium sangat diperlukan.
"Tidak mungkin lah teman-teman saya, para dokter-dokter ahli Mikrobiologi klinik, misalnya kita paksakan bekerja sampai overtime di atas 6-8 jam, mereka juga akan rentang terjadinya infeksi karena akan kelelahan dan fatigue disitu. Karena kelelahan dan fatigue, maka dengan sendirinya mereka gampang tertular dan tentu hasil yang kita harapkan tidak akan maksimal," katanya.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta uji spesimen untuk mendeteksi Covid-19 di Indonesia terus ditingkatkan. Dari target semula 10.000 per hari, ditingkatkan menjadi 20.000 per hari.
“Untuk pengujian spesimen, saya kira saya ucapkan terima kasih bahwa uji spesimen yang saya targetkan 10.000 ini sudah terlampaui dan saya harapkan target ke depan 20.000 per hari. Ini harus mulai kita rancang ke sana,” kata Jokowi dalam pengantar rapat terbatas secara virtual di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/6/2020).