Sungai Barabai Masih Keruh usai 2 Bulan Banjir, Ternyata Ini Penyebabnya

Antara
Pembersihan sampah yang menutupi sungai Barabai oleh jajaran Bidang SDA PUPR Kabupaten HST (Foto: Antara/M Taupik Rahman)

Kemudian, dengan adanya volume air yang banyak, sampah dan lumpur menyumbat sungai. Akhirnya air mencari jalannya sendiri ke dataran rendah sehingga akan membuat sungai-sungai baru. Itulah yang menyebabkan secara signifikan air sungai Barabai menjadi keruh.

Selain itu, Yani mengatakan, longsor di jalur sungai dan tebing sungai yang jalurnya yang berubah juga salah satu penyebab kekeruhan air dalam waktu yang lama ini.

"Kekeruhan air sungai ini, bakal dirasakan masyarakat dalam waktu lama. Sehingga, nanti perlu juga material air sungai tersebut diperiksa di laboratorium sehingga tidak berbahaya digunakan oleh warga," katanya.

Kalau proses penjernihan menurut Yani tergantung upaya yang dilakukan dan kondisi alam. Sepertu curah hujan yang sudah tidak terlalu tinggi lagi dan lumpurnya sudah mengendap sedemikian rupa. 

"Diperkirakan  dua bulan lebih air sungai Barabai ini baru bisa jernih lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kabupaten HST, Supranoto menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan pihaknya pascabanjir 14 Januari 2021 yang lalu.

Di antaranya pembersihan sungai dari sampah material banjir dan melakukan normalisasi di titik-titik tertentu sungai yang terkena longsor.

"Kondisi sungai yang masih keruh ini juga disebabkan karena di beberapa titik di hulu sungai masih ada longsor di badan sungai dan tebing khususnya di wilayah atas pegunungan. Kami pun terus melakukan inventarisir dan normalisasi memindahkan sisa longsor itu," katanya.

Dia juga menyatakan masih kesulitan menempuh medan dan membawa alat berat ke daerah atas itu.

"Dan kita belum tau apakah tumpukan tanah longsor itu bisa diangkat secara manual memakai tenaga manusia atau menggunakan alat berat. Kalau kubikasinya besar kita harus membawa alat berat sedangkan akses kesana sulit, karena daerah pegunungan," katanya.

Menurutnya lagi, kubikasi longsor tersebut pun pihaknya belum mengetahui berapa jumlahnya. Jadi belum bisa menentukan upaya pengerukan secara manual atau menggunakan alat berat.

Sebelumnya, untuk mengangkut sampah atau raba yang masih menutupi sungai seperti di Daerah Desa Aluan Besar sampai Munti Raya Barabai yang panjangnya lebih satu kilo meter itu pihaknya melakukan pembersihan secara manual dan menggunakan alat berat yang dipinjamkan oleh Balai Wilayah Sungai Kalimantan III. Noto menyatakan sudah melakukan inventarisasi dampak kerusakan khususnya di bidang SDA.

"Datanya sudah kita sampaikan baik ke Pemprov Kalsel maupun pusat. Kami berharap HST dapat anggaran bantuan untuk perbaikan," kata Noto.

Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Banjir di HST Kalsel, TNI Buka Posko Dapur Umum dan Bagikan Makanan Siap Saji

57 tahun lalu

Kronologi Kecelakaan di Hulu Sungai Tengah Kalsel, saat Kejadian Hujan Deras

57 tahun lalu

Geger Bayi Perempuan Dibuang di Musala Hulu Sungai Tengah, Usia Diperkirakan 10 Hari

57 tahun lalu

5 Hari Tersesat di Padang Ilalang, 2 Nelayan HST Ditemukan Selamat

57 tahun lalu

Miris, Kakek Perkosa Cucu di HST Pernah Dipenjara gegara Cabuli Anak Kandung

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal