Usai dirawat inap, Junianto sempat menunjukkan perubahan perilaku yang tidak lagi agresif. Sayangnya sekembalinya ke rumah, dia marah-marah, teriak dan mengamuk.
Syahri mengatakan kondisi kejiwaan Junianto mulai berubah selepas pulang merantau dari ibu kota sebagai buruh bangunan sekitar tahun 2011. Dia menjadi sosok pendiam dan tiba-tiba marah.
Lambat laun perilakunya kian tak terkontrol dan kerap mengamuk. Dia melempar barang, memukul hingga sempat ingin membacok ayahnya.
“Ayah dikejar dan dia teriak mau membunuh,” katanya.
Karena perilakunya yang semakin mengkhawatirkan dan membahayakan lingkungan sekitar, keluarga memutuskan untuk memasungnya. Junianto pernah divonis oleh dokter untuk mengonsumsi obat sepanjang hidupnya.