Anak ketiga dari empat bersaudara ini memang gemar belajar fisika. Dia aktif mengikuti klub belajar fisika di sekolahnya. Di klub ini, dia terbiasa membahas soal-soal olimpiade maupun membuat kreasi alat inovasi. Meski terkenal sulit, soal-soal fisika membuatnya merasa senang dan tertantang.
Indah bersyukur, sang ayah Muhidin (59), selalu mendukung cita-citanya. Sosok Muhidin jugalah yang memantik semangatnya untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Muhidin tidak pernah memaksanya untuk menjadi juara kelas, baginya yang terpenting anaknya rajin belajar dan memiliki karakter yang baik.
“Saya sebagai orang tua selalu memberikan motivasi, apa pun pandangan atau pendapatnya tidak pernah saya bantah. Kalau cita-cita Indah baik bagi hidupnya di dunia dan akhirat, saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan. Kalau kuliah di UGM baik untuk hidup Indah ke depan, keluarga tentu mendukung,” ucap Muhidin.
Tak mudah bagi Muhidin menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu selepas istrinya, Purnawati meninggal dunia pada 2019. Kepergian sang istri yang begitu mendadak menjadi ujian berat tak hanya baginya, tetapi juga bagi keempat anaknya. Awalnya, dia mengaku kesulitan saat harus menyesuaikan diri dengan tanggung jawab ganda ini, terlebih perkembangan anak bungsunya agak terhambat.
Dulu, kata Muhidin, mendiang sang istrinyalah yang biasanya mengurus toko alat rumah tangga yang ada di depan rumah mereka. Penghasilan dari toko digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, karena tak ada lagi yang semahir sang istri dalam berdagang, toko tersebut kini tidak ada yang mengurusi. Tak pernah lagi Muhidin mengisi barang-barang untuk dijual di toko.