“Sebetulnya itu kan harus dilakukan mediasi, hubungan timbal balik, silaturahmi yang terus-menerus, namun itu kedua belah pihak tidak demikian, tidak berjalan,” katanya.
Menurut Kapolda, bentrokan antarwarga Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo diduga karena kesalahpahaman. Pemicunya karena sekelompok pemuda Desa Sampuabalo melintas di Desa Gunung Jaya beriring-iringan naik sepeda motor dengan knalpot racing di malam Lebaran.
Aktivitas sekelompok pemuda tersebut tidak diterima warga Desa Gunung Jaya yang merasa terganggu. Mereka pun mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak mengenakkan bagi warga Desa Sampoabalo. Hal itu memicu pemuda Desa Sampuabalo datang ke Gunung Jaya hingga terjadi pembakaran rumah warga.
Namun, kata Kapolda, selain itu pemicu bentrokan juga karena konsumsi minuman keras. “Kira-kira empat bulan yang lalu kan saya ke sini, dan pemicunya salah satunya adalah konsumsi miras, kamiko kalau di Buton ini,” katanya.
Kapolda berharap kepada masyarakat Buton agar saling menahan diri agar tidak terjadi lagi bentrokan. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang memicu bentrokan harus dihentikan.
“Kita harapkan masyarakat Buton itu masyarakat yang sangat religus, sangat Islami, Alquran melarang itu, tuntunan hadis juga melarang itu, mari kita bersama-sama menghilangkan kebiasaan-kebiasaan jelek itu,” kata Kapolda Sultra.