MAKASSAR, iNews.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan penghargaan kepada Wali Kota Makassar Moh Ramdhan "Danny" Pomanto dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2018 di Grand Sahid Jaya Hotel.
Danny Pomanto meraih penghargaan dengan Kota Terbaik Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) 2017 Award. Penyerahan penghargaan tersebut turut disaksikan 416 bupati, 98 wali kota, 34 gubernur, para menteri, dan dirjen.
"Alhamdulillah, kita berhasil mengukir sejarah baru buat Kota Makassar. Semoga dengan raihan penghargaan ini, kita bisa terus berbuat yang terbaik bagi Makassar," kata Danny Pomanto, Minggu (29/7/2018).
Sementara itu, Jokowi menyampaikan apresiasi kepada seluruh kepala daerah dan anggota tim pengendali inflasi baik di pusat ataupun daerah yang selama 4 tahun ini mampu menekan inflasi pada angka di bawah 4 persen.
“Tahun 2015 di angka 3,35 persen, 2016 3,0 persen, 2017 3,1 persen. Lompatan seperti ini harus terus kita lanjutkan karena saya lihat sekarang koordinasi antara pusat dan daerah semakin baik, ada Satgas pangan dan juga yang ada di pusat dan daerah juga bekerja dengan baik,” ujar Jokowi.
Kepala Negara menuturkan, dengan koordinasi yang baik inflasi yang stabil, diharapkan semakin tahun, semakin turun semakin baik. Karena itu, dia berharap nilai inflasi berkisar antara 1 dan 2 persen dapat menyamai seperti negara-negara yang maju.
Mengenai neraca perdagangan, Jokowi menyampaikan bahwa terkait urusan impor dan ekspor posisi saat ini masih defisit.
“Problemnya di investasi, di ekspansi-ekspansi usaha. Oleh sebab itu, saya titip pada gubernur, bupati, wali kota, urusan yang berhubungan dengan investasi yang orientasinya ekspor, atau investasi yang itu adalah substitusi barang yang impor, sudahlah jangan ada pembicaraan lagi,” paparnya.
Jokowi menerangkan, pemerintah telah meluncurkan online single submission (OSS). Program OSS ini bisa masuk ke provinsi, kabupaten, dan kota, serta dapat menelusuri di bagian mana pengurusan izin berhenti.
“Pertama, saya titip itu, investasi orientasinya ekspor. Yang kedua, investasi yang berkaitan dengan subtitusi barang-barang impor, buka lebar-lebar,” ujarnya.