Seorang ibu, Metsia S saat menerima bantuan sembako tak bisa menahan rasa harunya. ‘’Suami saya sakit dan tak bisa bekerja, saya harus bekerja mencuci baju (bobaso) di rumah orang, tapi kondisi sekarang terasa sangat sulit. Bantuan sembako ini sudah membantu keluarga kami untuk bertahan hidup," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Srikandi Sulut Jeane Rondonuwu mengakui, dua tahun berada dalam kondisi masa pandemi Covid-19 tetapi tentu tidak akan melunturkan rasa kemanusiaan untuk membantu sesama.
"Aksi peduli kasih ini mengikat kita sesama perempuan, satu dengan yang lain, bukan karena rasa kasihan tetapi sebagai manusia yang telah belajar bagaimana mengubah kondisi sulit menjadi harapan dan semangat untuk masa depan,’’kata Jeane yang juga adalah Ketua IWO Sulut.
Selain membagikan sembako, Yayasan Srikandi juga menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun bertajuk 'Komplikasi Persoalan Perempuan di Sulawesi Utara' di Hotel Minahasa dengan narasumber Eleonora Moniung (Sekjen Yayasan Srikandi), Marsel Silom (Kepala UPTD Dinas P3AD Sulut), Een Walewangko (akademisi), Jeane Rondonuwu (Ketua Wartawan Online Sulut), dan moderator Sri Surya (Forum Perempuan Jurnalis Sulut).