Berdasarkan cerita rakyat di Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat jebatan ini dahulunya merupakan tempat eksekusi para pemuda Minangkabau yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada saat itu para pemuda yang melakukan pemberontakan tersebut di tangkap lalu dibawa ke Jembatan tersebut untuk di eksekusi. Mereka berbaris di bibir jembatan lalu ditembak mati.
Setiap orang ditembak langsung jatuh dan terbawa derasnya Sungai Air Batang Agam yang mengalir di bawah jembatan tersebut. Para wanita yang menyaksikan tragedi memilukan ini pun tak kuasa menahan tangis, meratapi suami dan anak laki-lakinya dieksekusi.
Dari kisah inilah jembatan tersebut dinamakan Jembatan Ratapan Ibu. Di ujung jembatan terdapat patung wanita paruh baya dengan pakaian adat khas Minangkabau sedang ke arah jembatan Ratapan Ibu yang kini menjadi ikon wisata di Kabupaten Limapuluh Kota.
Pemandangan hijau dan udara yang sejuk di sekitar jembatan dan sungai batang agam ini dijadikan sebagai destinasi wisata di Payakumbuh yang dikembangkan oleh pemerintah setempat sebagai kawasan Geo park.