Sementara untuk sektor ekonomi syariah, diakui Hari pertumbuhannya belum sesuai harapan yakni berkisar 9,0 persen. Oleh karena itu, BI pada 2020 memacunya dengan cara menggembangkan ekonomi syariah di lima pondok pesantren yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sumsel. "Unit usaha di pesantren ini melakukan kegiatan bisnis bidang peternakan, pembuatan air kemasan, pengelolaan kantin, dan lainnya," katanya.
Sementara terkait ekonomi digital saat ini sedang mengalami tren positif seiring dengan semakin terbiasanya masyarakat pada perdagangan e-commerce. Pertumbuhan pesat ini juga terjadi di Sumsel.
"Di tengah pandemi ini, sesungguhnya masih banyak potensi ekonomi yang bisa diraih. Oleh karena itu, saya sangat optimistis ekonomi akan terus membaik, asalkan daerah ini bisa menggendalikan penyebaran Covid-19," kata Hari.
Diungkapkan Hari, Sumsel sudah berhasil melewati tekanan berat ekonomi yang tepatnya terjadi pada triwulan II 2020, yang mana saat itu pertumbuhan ekonomi mengalami terkontraksi -1,53 persen secara year on year.
Namun pada triwulan III, daerah berpenduduk 8 juta jiwa lebih ini mencetak pertumbuhan -1,4 persen (yoy) atau terjadi pertumbuhan 0,13 persen jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Malahan secara quartal to quartal, Sumsel sudah tumbuh 4,12 persen. "Sejauh ini Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumsel bakal berada di kisaran 0,5 -1,0 persen pada akhir 2020," ucapnya.