"Artinya, jika petani menjual KKK 60 persen-50 persen, maka harga yang diterima petani lebih rendah," kata dia.
Rudi mengatakan kini petani di Sumsel mulai mengkhawatirkan penutupan pabrik karet di Sumsel, terlebih sejumlah pabrik di Bengkulu, Jambi dan Sumatra Barat mulai setop produksi.
“Yang kami khawatirkan kemungkinan terburuk jika Kota Palembang melakukan karantina wilayah, maka mayoritas pabrik karet yang ada di Palembang akan tutup,” kata dia.
Namun demikian, kata Rudi, hingga kini pabrik karet di Sumsel masih menerapkan imbauan dari Pemprov Sumsel agar pabrik bisa bertahan dengan melakukan efisiensi dan pemotongan ongkos produksi.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Alex K Eddy mengatakan, semua pabrik karet di Sumsel masih bertahan. Pengusaha sangat mempertimbangkan efek dari penyetopan produksi baik bagi karyawan maupun petani.
“Sepanjang yang saya tahu semua pabrik bertahan untuk tetap berproduksi di tengah kondisi saat ini,” kata dia.