Momentum Tahun Baru Islam menjadi pengingat agar umat memperbaiki diri. Pergantian tahun tidak hanya dirayakan, tetapi juga direnungkan sebagai kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Tradisi Suronan di pesantren juga identik dengan penyajian bubur merah dan bubur putih. Kedua hidangan ini memiliki makna filosofis dalam tradisi masyarakat Jawa.
Bubur merah memiliki rasa manis karena berasal dari gula merah. Sementara bubur putih memiliki cita rasa gurih. Dua warna tersebut melambangkan dualitas kehidupan yang selalu berdampingan. Misalnya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, serta kebaikan dan keburukan.
Dalam tradisi Jawa, bulan Suro sering dikaitkan dengan perenungan spiritual. Manusia diajak mengendalikan diri agar mampu memilih jalan kebaikan dalam hidupnya. Karena itu, tradisi bubur merah putih bukan sekadar hidangan. Simbol tersebut menjadi pengingat tentang keseimbangan hidup dan pentingnya menjaga perilaku.
Sebagian masyarakat Jawa masih memaknai Malam 1 Suro sebagai momentum spiritual penting. Berbagai ritual tirakat dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.