Masalah rem ini membuat Bagnaia seperti kehilangan senjata andalannya saat melibas tikungan cepat—padahal gaya membalap agresif saat deselerasi adalah salah satu kekuatan utamanya.
“Saat saya mencoba mengerem mendadak, entah ada yang mendekati saya dari lintasan lurus atau saya melebar, jadi saya benar-benar kesulitan di bagian itu,” jelasnya.
Tak hanya membuat posisi balapnya tidak kompetitif, tetapi juga mengganggu ritme dan konsistensinya sepanjang race.
Yang makin membuat frustrasi, tim Ducati belum menemukan solusi konkret untuk mengatasi krisis pengereman ini. Situasi ini menjadi dilema besar bagi Bagnaia, yang merasa terjebak dalam performa setengah matang.
“Sulit dipahami karena ketika saya mencoba mengerem sekeras yang saya inginkan, tidak ada cara untuk menghentikan motor, dan ketika saya mengerem lebih lembut untuk jarak tersebut, saya kesulitan untuk berbelok. Jadi, ini adalah situasi limbo yang sangat sulit untuk diatasi,” keluhnya.
Seri ke-13 MotoGP 2025 akan digelar di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, pada 15–17 Agustus 2025. Sirkuit ini terkenal dengan trek lurus panjang dan zona pengereman berat—yang justru bisa jadi mimpi buruk bagi Bagnaia jika isu pada Ducati-nya belum terselesaikan.