“Saya bersyukur bisa meraih gelar Super 500 kedua, tapi perjalanan sesungguhnya adalah perjalanan berikutnya,” ungkap Alwi.
Dalam laga final melawan Dong Tian Yao, Alwi mengaku telah melakukan persiapan matang. Dia mempelajari pola permainan lawannya dari sejumlah pertandingan sebelumnya untuk menemukan celah yang bisa dimanfaatkan.
Menurut dia, duel Dong melawan Anthony Sinisuka Ginting dan Moh. Zaki Ubaidillah menjadi bahan analisis penting sebelum turun ke lapangan. Strategi tersebut terbukti efektif untuk meredam kekuatan wakil China itu.
“Hari ini lawan Dong, saya belajar dari pertemuan dia lawan A Ginting dan Ubed (sapaan akrab Zak) juga, antisipasi untuk tidak kecolongan dari sisi serangannya. Dia punya postur yang tinggi jadi bola atasnya tajam,” tutup Alwi.
Kemenangan di Australian Open 2026 menjadi sinyal kuat kebangkitan Alwi Farhan. Setelah melewati masa sulit usai Piala Thomas, dia berhasil menjawab keraguan dengan prestasi sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu andalan masa depan bulu tangkis Indonesia.