Resesi
Persoalan lain adalah venue yang disebut IOC sebagai salah satu faktor terberat kalau Olimpiade Tokyo dimundurkan. "Sejumlah venue penting yang sangat dibutuhkan untuk Olimpiade mungkin tak bisa dipakai saat itu," kata IOC.
Apa pasal? Karena venue-venue itu sudah dipesan untuk banyak event, termasuk acara budaya, karena tak mengira Olimpiade akan ditangguhkan. Pun demikian dengan kampung atlet. Belum lagi akomodasi dan hotel.
"Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi IOC dari penundaan ini adalah jutaan pesanan bermalam di hotel-hotel yang sangat sulit diatasi," kata AFP.
Situasi ini makin memperumit industri pariwisata dan bisnis-bisnis terkaitnya yang sudah sempoyongan oleh aturan larangan terbang dan bepergian yang diterapkan hampir seluruh negara di dunia ini demi membendung pandemi virus corona.
Saking peliknya, dan amat besarnya pertaruhan finansial itu, serta konsekuensi-konsekuensi penjadwalan kembali terhadap sistem perekonomian sudah demikian saling terkait dan bertukar dampak, sejumlah kalangan di Jepang meyakini skenario ini bisa berujung kepada resesi.
Dan ketika negara berperekonomian terbesar ketiga di dunia itu terserang virus resesi, maka seisi dunia mungkin bakal ikut tertular resesi itu.
Abe yang mati-matian menunjukkan kesan tidak terpukul oleh penundaan itu dan berusaha terlihat optimistis, tak tahan untuk mengatakan Olimpiade 2021 akan menjadi "bukti kalahnya umat manusia terhadap virus corona".
Abe mungkin ingin memberi pesan ada bahaya tak kalah besar dari virus corona, yakni terbunuhnya gairah, kegembiraan, dan semangat yang membantu manusia bangkit yang salah satunya semestinya dilakukan oleh jalan terusnya Olimpiade Tokyo sesuai jadwal semula.
Saat penggerak nyawa dunia, yakni perekonomian global, tersumbat oleh virus corona, maka potensi sumbatan itu bisa makin mencekik oleh prospek resesi Jepang akibat penundaan Olimpiade tersebut.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Bach dan IOC, juga Abe dan Jepang, telah memutuskan OIimpiade ditunda. Kita lihat saja nanti.