"Banyak orang saat ini mempertanyakan arah komersial FIFA," tuturnya.
"Tetapi bagi Palestina, masalahnya lebih mendasar... Pertanyaan kami adalah apakah FIFA masih memiliki keberanian untuk menerapkan peraturannya kepada semua pihak secara setara... tanpa menyerah pada tekanan politik," ucapnya.
Asosiasi Sepak Bola Palestina juga meminta FIFA menjatuhkan sanksi terhadap klub-klub Israel yang beroperasi di permukiman di Tepi Barat. Mereka turut menyerukan penangguhan keanggotaan Israel di FIFA terkait tindakan negara tersebut di Gaza.
Permukiman Israel di Tepi Barat dinyatakan ilegal berdasarkan hukum internasional.
Kembalinya kompetisi pada September menjadi momentum penting bagi sepak bola Palestina setelah hampir tiga tahun kehilangan aktivitas kompetitif. Lebih dari 200 klub dari Palestina dan komunitas pengungsi Palestina di Lebanon akan menjadi bagian dari turnamen yang juga digunakan untuk mengenang para atlet yang tewas selama perang.
Dengan digelarnya Thousand Martyrs' Cup, Asosiasi Sepak Bola Palestina berharap aktivitas olahraga kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setelah periode panjang konflik dan penghentian kompetisi.