“Ketika Anda memiliki gambaran jelas tentang cara bermain, posisi rekan setim, pergerakan yang akan mereka buat, dan ruang yang kemungkinan terbuka, proses mengambil keputusan menjadi jauh lebih mudah,” ujarnya.
Konsep tersebut terlihat dalam proses gol Pedro Porro ke gawang Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026. Gol yang menggandakan keunggulan Spanyol tercipta melalui rangkaian umpan dan pergerakan presisi dari para pemain.
Gutierrez menilai kombinasi seperti itu tidak akan muncul dalam sistem permainan yang terlalu membatasi kreativitas. Pemain harus berlari secara cerdas dan memahami tujuan setiap pergerakan.
“Anda tidak dapat menghasilkan kombinasi seperti itu dan membuka ruang dalam sistem yang terlalu membatasi. Ini tentang memahami setiap bagian permainan agar kami banyak berlari, tetapi yang lebih penting adalah melakukan pergerakan cerdas dan menggunakan bola secara efektif,” katanya.
Pier Luigi Cherubino, yang mengikuti kursus kepelatihan RFEF bersama Lionel Scaloni, melihat pendidikan pelatih kini jauh lebih lengkap dibandingkan masa dia bermain. Materinya mencakup taktik, teknik, nutrisi, dan kondisi fisik.
Spanyol juga terus memperbarui metodenya untuk menghadapi sepak bola modern yang semakin cepat dan mengandalkan kekuatan fisik. Analisis data, beban latihan, lari berintensitas tinggi, formasi asimetris, serta perubahan peran bek sayap turut menjadi perhatian.
Meski sepak bola semakin kompleks, Spanyol tetap mempertahankan fondasi yang dibangun selama bertahun-tahun. Pendidikan pelatih, kecerdasan taktik, penguasaan bola, dan pemahaman kolektif menjadi cara Timnas Spanyol terus mencetak tim juara dunia.