Erick secara khusus menyoroti pentingnya perlindungan bagi pemain muda yang tampil dalam kompetisi Elite Pro Academy (EPA). Menurut dia, keselamatan pemain usia muda harus menjadi prioritas karena mereka merupakan bagian penting dari proses pembinaan sepak bola Indonesia.
"Nah, ini harus kita proteksi, ya, apalagi yang diserang Elite Pro Akademi, ya, yang mungkin masa depan pembinaan pemain kita, dan saya tidak bicara ini Elite Pro Akademi klub mana," kata Erick.
Dia menegaskan perlindungan harus berlaku bagi seluruh klub tanpa membedakan asal tim. Para pemain muda mengikuti pertandingan di berbagai tempat, sehingga keamanan mereka perlu dijamin selama menjalani kompetisi.
“Semua klub kita harus lindungi karena merekakan bertanding juga ke klub-klub lain. Nah, ini kita harus melindungi," tambahnya.
Dua insiden penyerangan tersebut kini menjadi alarm bagi pengelola kompetisi dan klub untuk memperkuat langkah pencegahan kekerasan. PSSI memberikan tenggat satu minggu bagi pihak terkait untuk mencapai kesepakatan sebelum menentukan langkah berikutnya.
Opsi larangan suporter tandang dan pengurangan poin bagi klub yang gagal menjaga suporternya menjadi dua langkah yang disoroti Erick. Namun, penerapannya masih bergantung pada hasil kesepakatan serta keputusan yang akan diambil setelah tenggat tersebut berakhir.