“Kami ingin Festival SenengSoccer menjadi pintu masuk bagi para siswi untuk mengenal dan menikmati sepak bola sejak dini. Melalui berbagai aktivitas di lapangan, mereka bisa belajar keterampilan dasar sekaligus menunjukkan minat dan potensi yang dimiliki. Selanjutnya, sekolah dapat mengambil peran dalam mengembangkan potensi tersebut melalui latihan rutin dan pembentukan tim sepak bola putri. Dengan begitu, pengalaman yang didapatkan dalam festival ini bisa menjadi awal dari proses pembinaan yang berkelanjutan, sekaligus mempersiapkan siswi untuk berpartisipasi dalam kompetisi KU 10 MilkLife Soccer Challenge,” ujar Chandra.
Festival SenengSoccer menghadirkan sejumlah tantangan keterampilan, mulai dari menggiring bola atau dribbling, mengoper dan mengontrol bola atau passing and control, duel satu lawan satu, lemparan ke dalam, tembakan ke sasaran, hingga tendangan penalti.
Peserta harus berlari zig-zag melewati rintangan, melakukan lemparan ke dalam dengan mengarahkan bola ke sasaran, serta menggiring bola melalui lintasan berkelok. Mereka kemudian ditantang melompat dengan kedua kaki secara bersamaan melewati rintangan sebelum melepaskan tembakan ke gawang.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian, peserta harus berlari cepat menuju tombol penghenti pengukur waktu. Catatan waktu menjadi penentu peringkat peserta sekaligus memberikan pengalaman untuk mempelajari teknik dasar sepak bola melalui aktivitas yang menyenangkan.
Naufalyn mengaku senang dapat mengikuti festival tersebut. Siswi berusia tujuh tahun itu mendapatkan kesempatan mempelajari teknik mengoper, menggiring, dan menendang bola ke gawang. Pengalaman tersebut juga memotivasinya untuk terus berlatih agar kemampuannya berkembang.