Menurut laporan media Italia tersebut, keberhasilan Indonesia mencapai final menjadi bagian dari proses panjang transformasi sepak bola nasional. Perubahan itu berjalan seiring dengan meningkatnya daya saing tim nasional dan semakin besarnya perhatian publik terhadap sepak bola.
Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada 1 Oktober 2022 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pembenahan sepak bola Indonesia. Tragedi tersebut menelan 135 korban jiwa dan meninggalkan duka bagi keluarga korban, insan sepak bola, serta masyarakat Indonesia.
Memori tragedi Kanjuruhan kembali hadir ketika Timnas Indonesia menghadapi Bangladesh. Sebelum pertandingan, dilakukan mengheningkan cipta untuk mengenang para korban.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Corriere dello Sport, Erick Thohir menggambarkan Indonesia sebagai “raksasa yang sedang tidur”. Dia menilai Indonesia memiliki potensi sepak bola yang sangat besar, tetapi membutuhkan pengelolaan yang lebih profesional dan transparan.
Erick juga menempatkan tragedi Kanjuruhan sebagai salah satu momentum penting dalam proses pembenahan sepak bola Indonesia. Perjalanan tersebut kini terlihat melalui perkembangan tim nasional yang mampu bersaing dan mencapai final FIFA ASEAN Cup 2026.