“Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita di Kanjuruhan. Sebelum pertandingan kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka, lalu para pemain berjuang sampai menit ke-97 untuk membawa Indonesia ke final. Bagi saya, ini bukan sekadar tentang menang dan kalah. Ini tentang bagaimana sepak bola Indonesia belajar dari masa lalu dan terus bergerak maju," kata Erick Thohir.
Menurut Erick, keberhasilan menuju final tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan. Perjalanan tersebut juga menjadi bagian dari proses sepak bola Indonesia dalam menjaga ingatan terhadap tragedi Kanjuruhan sekaligus melakukan pembenahan.
"Kita harus menjaga ingatan tentang Kanjuruhan sekaligus memastikan sepak bola Indonesia yang kita bangun hari ini jauh lebih profesional, membanggakan dan menjamin keamanan dan kenyamanan para suporter yang mendukung langsung timnas ke stadion,” tambahnya.
Perhatian dari media Italia tersebut menempatkan perjalanan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 dalam konteks yang lebih luas. Skuad Garuda bukan hanya mencatat hasil besar di lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan perubahan sepak bola Indonesia setelah tragedi Kanjuruhan.
Kini Timnas Indonesia telah mengamankan tempat di final FIFA ASEAN Cup 2026. Performa 9-2 atas Bangladesh menjadi salah satu hasil penting dalam perjalanan Skuad Garuda menuju partai puncak, sekaligus mempertegas persaingan Indonesia di level sepak bola Asia Tenggara.