TANGIER, iNews.id - Mohamed Salah memimpin Mesir di semifinal Piala Afrika 2025 dengan beban sejarah, tekanan nasional, dan ambisi pribadi yang belum pernah terwujud sepanjang karier dia.
Mesir berstatus sebagai pengoleksi tujuh gelar Piala Afrika, terbanyak di benua tersebut. Namun, trofi terakhir diraih pada 2010, setahun sebelum Mohamed Salah menjalani debut internasional bersama tim nasional.
Di usia 33 tahun, Salah sudah dua kali merasakan pahitnya final Piala Afrika pada edisi 2017 dan 2021. Di antara kegagalan tersebut, Mesir tersingkir di babak 16 besar pada 2019 saat menjadi tuan rumah. Pada edisi 2023, cedera memaksa dia menyaksikan Mesir tersingkir lebih awal.
Setelah kemenangan atas Pantai Gading di perempatfinal, Salah menegaskan hasrat terbesarnya bersama tim nasional.
"Tidak ada seorang pun, bahkan di Mesir, yang ingin memenangkan trofi ini lebih dari saya," kata Salah dikutip dari BBC.
"Saya sudah memenangkan hampir semua gelar. Inilah trofi yang saya tunggu," ujarnya.
Semifinal kali ini juga memunculkan aroma balas dendam. Salah kembali berhadapan dengan mantan rekan setim di Liverpool, Sadio Mane, sosok yang dua kali memupus mimpi dia di panggung internasional dalam tiga pertemuan terakhir.
Dengan usia kedua pemain sudah menginjak 33 tahun dan Piala Afrika akan berubah menjadi turnamen empat tahunan mulai 2028, laga ini berpotensi menjadi kesempatan terakhir Salah membawa trofi kembali ke Kairo.
Di Afrika, masih melekat anggapan seorang pemain belum dianggap benar-benar hebat tanpa gelar Piala Afrika. Meski koleksi trofi klub dan penghargaan individu Salah menggunung, satu mahkota kontinental masih kosong.