Kini, namanya mencuri perhatian bersama Club Brugge. Hattrick ke gawang Inter Milan di San Siro menjadi bukti ketajamannya sekaligus pencapaian penting dalam perjalanan kariernya setelah pernah gagal menembus sejumlah klub elite Italia.
Bedini menyebut Tresoldi masih menjaga hubungan dengan lingkungan tempat dia memulai karier. Sang pemain sesekali kembali ke Fontanelle dan bertemu teman-teman lamanya yang juga bermain sepak bola.
“Sesekali dia kembali ke Fontanelle dan bertemu dengan teman-teman lamanya di tim sepak bola. Dia masih terikat dengan asal-usulnya, tetapi jangan tanya kepada saya apakah dia akan memilih Italia atau Jerman, karena saya tidak tahu. Hatinya yang akan menentukan,” ujar Bedini.
Penampilan Tresoldi di San Siro juga memiliki cerita tersendiri. Dia diketahui merupakan penggemar AC Milan. Karena itu, mencetak tiga gol ketika menghadapi rival sekota Milan, Inter, di stadion tersebut menjadi pengalaman yang istimewa.
Bedini juga mengungkapkan salah satu sosok yang menginspirasi Tresoldi sejak kecil adalah mantan penyerang Italia, Filippo Inzaghi. Pengaruh tersebut terlihat dari kemampuan sang pemain mencari ruang dan memanfaatkan peluang di dalam kotak penalti.
“Bahkan pada usia 12 tahun, dia bisa mencetak gol dengan berbagai cara, menggunakan kaki kanan, kaki kiri, sundulan, hingga menyelinap ke dalam kotak penalti. Bagaimanapun, idolanya selalu Pippo Inzaghi. Terkadang dia juga meniru Inzaghi. Kami mengadakan sesi latihan khusus untuk menunjukkan kepadanya cara bergerak di dalam kotak penalti,” kata Bedini.
Kisah Tresoldi memperlihatkan perjalanan seorang pemain yang tidak langsung mendapat tempat di klub-klub besar. Setelah lima klub Italia menolaknya saat masih muda, dia justru berkembang di Jerman sebelum mencuri perhatian di panggung Liga Champions bersama Club Brugge.