Kusnaeni menilai kekuatan utama Herdman terletak pada kemampuannya membangun sistem sepak bola jangka panjang. Dia dikenal sebagai konseptor ulung, bukan sekadar pemburu hasil instan.
“Lebih dari sekadar berprestasi, Herdman juga seorang konseptor yang ulung. Itu tercermin dari cara dia membangun sepak bola Kanada dengan berbagai proyek yang mampu mengangkat negara itu masuk jajaran elite di Amerika Utara, bahkan dunia,” ujar dia.
Dari sisi filosofi bermain, Herdman memiliki pendekatan yang dinilai relevan dengan kebutuhan Timnas Indonesia saat ini. Dia mengedepankan pressing agresif, sirkulasi bola cepat, serta transisi menyerang dan bertahan yang dinamis.
“Filosofi sepak bola Herdman juga jelas. Dia menyukai sepak bola dengan pressing, aliran bola cepat, dan transisi cepat. Agak mirip dengan filosofi sepak bola STY dulu,” paparnya.
Selain gaya bermain, Herdman juga dikenal fokus pada pengembangan pemain muda lokal yang dipadukan dengan rekrutmen pemain berkualitas dari berbagai jalur. Pendekatan ini dinilai selaras dengan kondisi sepak bola Indonesia.
“Konsepnya dalam menangani timnas bertumpu pada pengembangan potensi pemain lokal digabung dengan rekrutmen pemain berkualitas dari berbagai sumber. Itu cocok dengan situasi Indonesia saat ini,” tambah dia.
Tantangan pertama Herdman bersama Timnas Indonesia akan datang dalam waktu dekat. Dia dijadwalkan menjalani debut pada ajang FIFA Series 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 23–31 Maret mendatang.
Sebagai tuan rumah, Timnas Indonesia akan menghadapi tiga negara dari konfederasi berbeda, yakni Bulgaria dari UEFA, Kepulauan Solomon dari OFC, serta St. Kitts and Nevis dari CONCACAF. Turnamen ini menjadi panggung awal untuk mengukur arah baru Skuad Garuda di bawah kendali John Herdman.