Peralihan besar terjadi pada 1967 saat Ronny bergabung dengan PSMS Medan. Di klub besar berjuluk Ayam Kinantan tersebut, dia menemukan panggung utama sebagai penjaga gawang. Dengan postur 183 cm dan refleks yang mumpuni, Ronny cepat menjadi andalan di bawah mistar.
Bersama PSMS, dia mengantar klub meraih gelar juara Perserikatan 1967 dan 1971, serta menjuarai Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh yang saat itu menjadi salah satu turnamen internasional bergengsi.
Pada 1973, Ronny melanjutkan kariernya ke Persija Jakarta. Di ibu kota, dia kembali menunjukkan kualitasnya sebagai kiper utama dengan membantu Macan Kemayoran menjuarai kompetisi Perserikatan 1975. Setelah periode bersama Persija, klub terakhir yang dia bela adalah Indonesia Muda Jakarta hingga akhirnya memutuskan pensiun dari sepak bola pada 1985, ketika dia berusia 38 tahun.
Di level internasional, Ronny Pasla menjadi salah satu penjaga gawang utama Timnas Indonesia pada era 1967 hingga 1979. Dia tercatat membawa Indonesia meraih gelar Turnamen Merdeka 1969, menjuarai Pesta Sukan Cup 1972, serta tampil sebagai finalis King’s Cup 1968. Deretan capaian ini menempatkan namanya sebagai sosok sentral di bawah mistar tim Garuda selama lebih dari satu dekade.
Salah satu momen paling ikonik dalam profil Ronny Pasla terjadi pada 1972 ketika Timnas Brasil yang diperkuat Pelé datang bertanding ke Indonesia. Dalam laga yang berakhir dengan kekalahan 1–2 untuk Indonesia, Ronny berhasil menggagalkan eksekusi penalti Pele. Aksi langka tersebut membuat namanya melekat abadi dalam sejarah sepak bola nasional sebagai kiper Timnas Indonesia yang pernah menahan penalti sang legenda dunia.