Bagi Yunus, kekerasan terhadap pemain akademi merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan. Apalagi, para pemain muda tersebut sedang menjalani aktivitas sepak bola untuk mengembangkan kemampuan dan berkontribusi bagi klub maupun sepak bola nasional.
Yunus turut menyoroti rivalitas antarsuporter yang berubah menjadi tindakan kriminal. Dia mengingatkan persaingan dalam sepak bola seharusnya tidak berkembang menjadi permusuhan di luar pertandingan.
"Kalau seperti ini ulah-ulah suporter, tidak akan ada damai di sepak bola kita. Bayangkan saja, anak-anak Elite Pro Akademi yang masih usia dini dibuat seperti ini oleh suporter. Kami sangat menyayangkan. Sampai kapan ini akan berakhir kalau kita tidak saling sadar? Untuk apa kita melakukan hal-hal seperti itu?” tegas pria asal Gorontalo tersebut.
Menurut Yunus, rivalitas cukup berlangsung selama pertandingan di lapangan. Suporter diharapkan mampu menerima hasil pertandingan tanpa melampiaskan kekecewaan melalui kekerasan terhadap pihak lain.
Dia kembali meminta kepolisian memberikan perhatian serius terhadap kasus penyerangan bus Persib U-18. Hukuman tegas dinilai penting agar tindakan serupa tidak kembali menimpa pemain, ofisial, maupun pihak lain yang terlibat dalam kegiatan sepak bola.
"Kita juga berharap, ya, harus diakui rivalitas itu hanya 45 kali 2, itu pun cukup hanya ada di pemain. Suporter, ya, menang bersyukur, kalah harus diterima, dan tidak ada rivalitas yang ekstrem seperti ini,” tuturnya.
“Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi. Sekali lagi kami mohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan hukuman yang berat, menangkap mereka-mereka ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya,” pungkas Yunus.